Ketika Teori Jarum Hipodermik Menentukan Situasi Keamanan Papua
Maraknya pemberitaan media massa tentang aksi penembakan dan konflik antarwarga menimbulkan persepsi bagi masyarakat di luar Papua. Tertanam di pikiran sebagian besar mereka, Papua daerah konflik. Benarkah demikian?
"Fabio, bagaimana situasi keamanan di sana?. Saya menonton di salah satu stasiun televisi ada penembakan warga di sana,".
Demikian bunyi pesan dari mama ke telepon seluler saya setelah terjadi insiden penembakan di salah satu daerah pegunungan Papua.
Ada juga pesan dari teman yang akan mengunjungi Papua untuk pertama kalinya. "Bro bagaimana situasi keamanan di sana ya?. Besok saya mau ke Papua. Info ya.
Dua pesan ini menunjukkan ada rasa stigma bahwa konflik terjadi secara menyeluruh di Papua. Padahal insiden penembakan atau konflik biasanya terjadi di daerah tertentu saja seperti Kabupaten Nduga dan Kabupaten Puncak Jaya.
Sementara saya bermukim di Jayapura, ibu kota Papua. Jaraknya sangat jauh dengan kedua daerah tersebut. Ke sana, saya harus menggunakan pesawat berbadan kecil dengan perjalanan sekitar 60 menit hingga 90 menit.
Pesan dari media massa yang dominan tentang pertikaian antarwarga dan insiden penembakan menciptakan sebuah rasa ketakutan yang berujung adanya kesimpulan bahwa konflik sering terjadi di Papua secara menyeluruh.
Menurut saya, hal ini membuktikan adanya indikasi efektivitas dari salah satu teori komunikasi yakni, Jarum Hipodermik yang digagas Harold Lasswell pada tahun 1920-an.
Dalam teori ini, media massa menyuntikkan informasi secara satu arah untuk menciptakan sebuah efek yang besar kepada khalayak. Hal ini terkait kasus stigma Papua tidak aman.
Sebenarnya Papua daerah yang aman. Di Jayapura dan banyak Kabupaten lainnya, aktivitas warga berjalan lancar, layanan pendidikan, kesehatan, perdagangan dan hiburan berjalan rutin setiap hari.
Bahkan dalam sebulan, saya dan istri pasti tak melewatkan menonton film di bioskop yang tersedia di Mal Jayapura hingga beberapa kali. Setiap minggu, ratusan warga membanjiri setiap destinasi wisata di Papua. Misalnya Pantai Hamadi di Jayapura atau Raja Ampat di Papua Barat.
Karena itu, saya sebagai jurnalis yang bertugas di Papua selama lima tahun terakhir berkomitmen ingin menunjukkan bahwa Papua juga daerah yang aman melalui liputan bertema pariwisata dan kisah inspirasi lainnya.
Marilah kita insan pers agar memberikan pemberitaan yang berimbang tentang Papua. Tak hanya isu keamanan namun isu pendidikan, kesehatan, ekonomi mikro dan pariwisata.
FLO, Jayapura , Juni 2019.


Comments