Gizi Buruk Asmat dan Harapan Mahatma Gandhi


Salah satu kutipan terkenal dari Mahatma Gandhi,  tokoh pejuang gerakan anti kekerasan dari India berbunyi "harta sejati adalah kesehatan,  bukan emas dan perak". 

Perkataan Gandhi menunjukkan betapa pentingnya memprioritaskan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Tapi sayangnya,  tak semua warga di berbagai belahan dunia yang bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.  

Di saat itulah,  peranan media massa  sangat dibutuhkan untuk mengadvokasi masyarakat yang tak bisa mengakses layanan kesehatan yang layak. 

Bagi insan pers,  perlu disadari bahwa isu kesehatan adalah salah satu topik yang sangat berpengaruh bagi kehidupan sehari-hari masyarakat khususnya di remote area atau daerah pedalaman.  

Masih teringat kembali,  saat pertama kali saya bersama rekan fotografer dari Harian Kompas,  Wisnu Widiantoro dan rekan Kompas TV di Timika bernama Irsul Aditra menginjakkan kaki di Agats,  ibu kota Kabupaten Asmat, Papua pada 12 Januari 2018 lalu.  

Saya terdorong dari Jayapura ke Asmat setelah mendapatkan informasi dari Uskup Asmat Mongsineur Aloysius Murwito saat bertemu di Sentani,  ibu kota Kabupaten Jayapura,  pada 10 Januari atau dua hari sebelum tiba di Asmat. 

Uskup Alo mengungkapkan,  puluhan anak di banyak kampung yang mengalami campak dan penyakit serius lainnya yang menyebabkan terjadinya gizi buruk sejak tahun 2017. 

Saat tiba di sana,  saya pun langsung mengecek kondisi anak-anak di rumah sakit setempat dan sejumlah kampung.  Perjalanan ke sejumlah desa itu  menggunakan perahu motor yang melintasi lautan dan sungai Asmat sekitar tiga hingga lima jam. 

Hati yang sangat sedih.  Air mata yang hampir berlinang ketika melihat anak-anak di kampung dan RSUD Agats ini kurus kering dan kesakitan.


Bayangkan jika kamu secara langsung  harus melihat perjuangan salah satu balita yang melawan sakratul maut dan akhirnya menyerah. 

Sebanyak 72 anak balita meninggal akibat komplikasi campak disertai gizi buruk dan sejumlah penyakit penyerta seperti tuberkulosis. Total terdapat 646 anak terkena campak dan 144 anak menderita gizi buruk di 19 distrik.

Meliput di Asmat bukanlah suatu kebanggaan walaupun saya sering disebut yang pertama kali mempublikasikan tentang gizi buruk di Asmat pada awal tahun itu. Sudah menjadi suratan takdir.  Mungkin Tuhan mengutus Uskup Alo berbicara ke saya untuk membantu mereka.  

Kondisi ini saya hadapi selama dua pekan meliput di Papua.  Pengalaman yang semakin menguatkan  saya untuk fokus liputan pada tema kesehatan.  Papua bukan hanya tentang pelanggaran HAM,  politik ideologi dan infrastruktur jalan serta jembatan saja.

Pasca liputan ini,  akhirnya bantuan obat-obatan,  makanan dan tenaga medis berdatangan ke Asmat.  Penderitaan masyarakat akhirnya bisa diatasi. 
Tapi apakah peranan pers hanya untuk meliput kejadian insidental seperti di Asmat? 

Pentingnya Advokasi 

Dari hasil temuan saya selama lima tahun menjadi wartawan di Papua dan Papua Barat, terdapat sejumlah masalah penting terkait isu kesehatan yang harus diadvokasi insan pers.  

Pertama minimnya infrastruktur dan ketersediaan tenaga medis.  Masih terdapat kampung yang dihuni ratusan warga namun tidak memiliki pusat layanan kesehatan dan tenaga medis seperti dokter atau bidan.


Masyarakat harus menempuh waktu dengan berjalan kaki, naik perahu motor atau pesawat berbadan kecil untuk mendapatkan layanan kesehatan di daerah yang memiliki puskesmas atau rumah sakit.  Tak jarang ada warga yang sakit meninggal dunia karena terlambat mendapatkan penanganan medis. 

Kedua,  tentang minimnya kesadaran warga tentang pelayanan kesehatan yang baik.  Misalnya minimnya perilaku hidup bersih dan sehat serta adanya ketakutan warga di sejumlah daerah untuk menggunakan vaksin polio kepada anaknya.  

Ketiga,  tentang peranan pemerintah daerah setempat untuk mengalokasikan  dana terhadap sektor kesehatan.  Pembangunan infrastruktur,  penyediaan obat-obatan dan tenaga medis tak terealisasi hingga dunia kiamat apabila tak ada program kesehatan disertai anggaran yang cukup  dari pemerintah.  

Ketiga hal ini menjadi dasar bahan liputan bagi jurnalis atau calon jurnalis khususnya isu kesehatan.  Dengan peliputan yang konsisten,  jurnalis berperan membantu masyarakat mendapatkan layanan kesehatan yang layak dan memadai.


Kalau bukan kita siapa lagi?  
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Jurnalis seperti guru yang menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.  
Tapi jangan khawatir, semua usaha kita untuk masyarakat akan diingat Tuhan.

FLO, Jayapura,  Juni 2019. 






Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman menarik dari para senior di Kompas (Part 1)