Perjuangan Anak Pedalaman Papua Meraih Cita-Cita





Yupinus Anggaibak berjalan dengan penuh semangat menuju salah satu rung kelas di Sekolah Asrama SD-SMP Taruna Papua. Pemuda berusia 17 tahun ini sambil menggengam sebuah kertas berwarna putih dan buku pelajaran akan mengikuti pelajaran bahasa inggris sekitar pukul 08.00, 1 Maret, 2019 lalu. 


Yupinus termasuk dari salah satu siswa yang bersekolah di SD-SMP Asrama Taruna Papua di Timika, Kabupaten Mimika.  Dia berasal dari salah daerah pedalaman di Distrik Agimuga. 

Meskipun terlambat bersekolah, Yupinus yang saat ini duduk di bangku kelas III SMP bertekad menyelesaikan pendidikannya hingga perguruan tinggi. Ia menerima beasiswa untuk bersekolah di SD-SMP Asrama Taruna Papua sejak kelas 1 SD.

Di daerah Yustinus, tidak semua kampung memiliki sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang lengkap seperti di Kota Timika. Dari kampungnya ke salah sekolah terdekat harus berjalan kaki dengan menempuh waktu selama tiga jam. Kondisi inilah yang selalu menyulitkan anak-anak untuk mendapatkan jam belajar yang optimal.  

"Saya akan tetap bersemangat bersekolah demi meraih cita-cita di masa depan dan juga membantu orang tua di kampung. Saya ingin menjadi seorang mekanik dan bisa bekerja di perusahaan seperti Freeport," kata pemuda berkumis ini saat ditemui akhir Februari lalu. 

Kepala Sekolah Asrama Taruna Papua Johana MM Tnunay mengatakan,  sekolah yang berada di bawah naungan PT Freeport Indonesia ini berpola asrama sejak tahun 2013.

Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) yang bertugas untuk menyeleksi anak-anak untuk bersekolah di Taruna Papua. 

Sekolah ini khusus bagi suku Amungme dan lima suku kekerabatan,  yakni Banti,  Hoya,  Tsinga,  Beleh,  Aroanop,  Agimuga dan sekitarnya. 

"Pada tahun ini,  jumlah siswa di sekolah ini mencapai 335 anak dari beberapa wilayah pedalaman di Mimika.  Jumlah ini meliputi 285 siswa SD dan 50 siswa SMP, " papar Johana.  




Ia menuturkan,  minat anak untuk menimba ilmu di Sekolah Taruna Papua sangat tinggi.  Jumlah anak yang bersekolah di Taruna Papua terus meningkat setiap tahunnya.  

Adapun jumlah guru yang mengajar di SD dan SMP Taruna Papua sebanyak 32 orang.  Terdapat 16 rombongan belajar yang terdiri dari 13 rombongan belajar untuk SD dan tiga rombongan belajar untuk SMP.  

Para guru telah menerapkan kurikulum 2013 bagi 335 siswa Sekolah Taruna Papua.  Para guru yang berada di Taruna Papua adalah lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan jurusan sesuai bidang studi yang diajarkan kepada anak-anak. 

Sementara itu asrama para siswa berdekatan langsung dengan sekolah.  Terdapat 21 tenaga pendamping yang bertugas untuk mengawasi para siswa di asrama tersebut. 

Anak-anak tidak mendapatkan materi belajar dan guru yang memadai namun juga pendidikan disiplin yang ketat.  Apabila ada siswa yang terlibat kasus mengonsumsi minuman keras hingga memukul guru maka langsung dikeluarkan dari sekolah. 

"Sebenarnya kami membatasi jumlah anak yang masuk ke Taruna Papua yang berkapasitas 800 hingga 1000 anak.  Sebab,  sarana dan prasarana yang masih terbatas dan kami hanya mengajar 20 hingga 25 siswa di setiap kelas, " tuturnya. 

Putus sekolah 

Mimika termasuk salah satu kabupaten di Papua dengan kondisi geografis wilayah pegunungan dan pesisir pantai. Dengan kondisi ini meyebabkan tak semua anak di Mimika yang mengecap pendidikan wajib 12 tahun hingga tuntas seperti anak-anak lainnya daerah perkotaan Mimika.  

Diketahui dari data yang dihimpun Badan Pusat Statistik, Kabupaten Mimika Dalam Angka Tahun 2018, terdapat dua distrik yang hanya memiliki satu sekolah dasar yakni, Alama dan Hoya. Distrik Alama dengan 308 siswa dan dua guru, sedangkan Distrik Hoya dengan 336 siswa dan tujuh guru.  Maksimal satu guru SD mengajar 32 siswa. Namun, kondisi yang terjadi di dua distrk pedalaman ini  sudah melewati rasio ideal. 

Dari data yang sama,  terdapat tiga distrik yang sama sekali tidak memiliki SMP,  yakni Alama,  Hoya dan Kwanki Narama. Sementara enam distrik memiliki satu SMP,  yakni Agimuga,  Amar,  Jila,  Jita,  Mimika Barat dan Mimika Tengah. 




Untuk lembaga pendidikan tingkat SMA hanya tersedia di lima distrik,  yakni Kuala Kencana,  Kwanki Narama,  Mimika Baru,  Mimika Tengah dan Wania. Sementara 13 distrik tidak memiliki SMA. 

Hingga tahun 2017, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Papua menempati peringkat 34 dengan poin 59, 09.  Angka ini berada di bawah standar nasional yakni 70,81. Faktor pembentuk IPM adalah umur panjang dan hidup sehat,  pengetahuan dan hidup layak.

Data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  Provinsi Papua pada tahun 2018,   program wajib belajar 12 tahun di Provinsi Papua belum berjalan optimal.  Rata-rata lama sekolah baru mencapai tujuh tahun,  yakni dari tingkat  SD kelas I hingga kelas VII Sekolah Menengah Pertama.  

Angka putus sekolah dari SD hingga SMP paling banyak berada di 15 kabupaten di pegunungan tengah Papua. Misalnya Lanny Jaya,  Tolikara,  Yalimo,  Jayawijaya,  Puncak,  Puncak Jaya hingga Mimika. 

Kondisi tersebut juga menyebabkan masalah buta aksara di  Papua masih tinggi. angka buta huruf di Papua mencapai 24 persen atau sekitar 600.000 warga belum dapat membaca dan menulis. 

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Protasius Lobya menuturkan,  penyebab utama lama sekolah di Papua masih rendah karena minimnya sarana transportasi untuk mengangkut siswa dari kampung ke sekolah.  Sementara rata-rata sekolah berada di ibu kota distrik atau setingkat kecamatan. 

"Jarak sekolah dengan rumah warga yang maksimal 3 kilometer.  Di pedalaman, jarak kampung ke sekolah bisa mencapai puluhan kilometer. Para siswa dari rumah pada pagi dan tiba di sekolah siang hari, "ungkapnya. 

Pada akhir artikel ini,  saya sebagai penulis berharap anak-anak di seluruh Papua khususnya di daerah pedalaman tak boleh patah semangat dalam berjuang meraih pendidikan yang lebih  baik. Para pemimpin daerah pun harus fokus untuk meningkatkan kualitas pendidikan baik dari segi SDM dan infrastruktur. 


Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman menarik dari para senior di Kompas (Part 1)