Makna 20 Mei Bagi Dua Negara dan Satu Keluarga dari Carl Jung
sumber foto Kompasiana
"Kata 'kebahagiaan akan kehilangan makna bila tidak ada 'kesedihan'.
Saya memulai tulisan sederhana ini dengan kutipan dari Carl Gustav Jung, tokoh penting yang merintis teori Psikologi Analitik asal Swiss. Bahwa dalam memaknai suatu peristiwa bahagia bagi sebuah individu maupun institusi pasti diwarnai dengan adanya rasa dukacita.
Rasa sedih yang menjadi fase kehidupan tertentu bagi manusia dan sebuah kelompok masyarakat sebelum mencapai kebahagiaan.
Secara khusus saya ingin membahas khusus makna dari kutipan Jung dengan makna tanggal 20 Mei bagi kampung halaman saya, Timor Leste, tanah kelahiran saya, Indonesia dan keluarga saya.
Tulisan ini tidak mendalam secara sisi sejarah. Saya hanya ingin menyampaikan makna tanggal 20 Mei menurut persepsi saya yang berkelindan dengan kutipan Carl Jung. Hal ini sebagai eksistensi dari buah pemikiran Descartes, filsuf asal Perancis, yakni Cogito Ergo Sum, saya berpikir maka saya ada.
Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul 09.00 WIB, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan tanah air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo.
Perjuangan meraih kemerdekaan tidaklah mudah. Banyak jiwa pemuda, pemudi, tokoh pergerakan yang dikorbankan untuk meraih kehormatan sebagai negara yang bebas. Dengan tangis dan darah, Indonesia akhirnya meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 setelah 350 tahun dijajah negara Belanda.
Kini 20 Mei di Indonesia diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional. Sebuah gerakan awal untuk menyuarakan perjuangan melawan kolonialisme oleh kaum terpelajar.
Sementara bagi Timor Leste, tanggal 20 Mei 2002 merupakan perayaan hari kemerdekaan yang pertama bagi negara yang pernah menjadi provinsi dari negara Portugal dan Indonesia.
Pada tanggal itu Timor Leste secara resmi mendapatkan pengakuan sebagai suatu negara yang berdaulat oleh Perserikatan Bangsa Bangsa.
Sebelum mencapai impian mereka, Timor Leste menjalani perang saudara dari perang saudara pada tahun 1975, adanya peperangan dalam Operasi Seroja dan konflik pada tahun 1999 sebelum dan pasca jajak pendapat.
Warga Timor Leste kini menikmati kemerdekaannya sebagai negara bebas dan terus menjalin hubungan baik dengan Indonesia. Indonesia bagaikan seorang kakak yang membimbing negara termuda di kawasan Asia Tenggara itu.
Dalam kunjungan ke Dili, ibu kota negara Timor Leste, pada Januari 2020 lalu, saya menyempatkan waktu untuk berfoto di Jembatan Presidente B.J Habibie.
Jembatan yang diresmikan pada 29 Agustus 2019 ini menjadi simbol penghormatan dan kecintaan masyarakat Timor Leste terhadap sosok B.J Habibie, Presiden Indonesia ketiga yang memberikan opsi jajak pendapat referendum dan otonomi khusus pada 29 Agustus 1999.
Kini Timor Leste telah merayakan kemerdekaannya yang ke-18. Saya berharap Timor Leste dan Indonesia tetap menjalin hubungan yang baik di masa depan. Saatnya bersinergi untuk membangun kawasan ASEAN ke arah yang lebih maju.
Middle Child
Tanggal 20 Mei 1987 menjadi anugerah bagi keluarga Andre da Costa dan Philomena MAC Lopes da Cruz. Di sebuah klinik kecil di Semarang, Jawa Tengah, lahir anak kedua mereka.
Anak itu adalah saya sendiri. Saya lahir di tengah kondisi keuangan orang tua pas-pasan. Mereka tak bisa membeli tiket pesawat untuk melahirkan saya di Dili, ibu kota Provinsi Timor-Timur yang kini menjadi Timor Leste.
Saya pernah diejek sejumlah kerabat karena tidak lahir di Dili tapi di Semarang. Sementara ketiga saudara kandung saya lahir di Dili. Karena rasa penasaran, saya pun menemui mama untuk menanyakan hal tersebut.
Mama pun menceritakan lika-liku bagaimana susahnya untuk biaya membayar biaya persalinan dan tidak sanggup untuk membeli tiket pesawat untuk pulang ke Dili.
Mama dan bapa tinggal di sebuah kos sempit bersama teman-teman mahasiswa di Semarang. Saat itu mama sedang mengikuti tugas belajar dari Pemprov Timor-Timur di Universitas Diponegoro dengan studi Ekonomi Pembangunan.
Seorang tetangga mama yang juga pemuka agama biasa dipanggil pak haji turut membantu mama dan bapa saat saya hadir ke muka bumi untuk pertama kali. Pak haji memberikan bantuan makanan dan air hangat bagi mama.
Pada rahun 2015, saya melaksanakan tugas dari kantor untuk mensurvei jalur jalan pantai utara Jawa atau disebut Pantura jelang lebaran. Saya bersama dua rekan mengawali perjalanan dengan mobil dari Jakarta hingga Surabaya dan kembali lagi ke Jakarta dalam waktu 48 jam.
Dalam perjalanan itu, tim kami juga melewati Kota Semarang. Mama mengirimkan pesan singkat ketika saya mengabarkan telah tiba di Semarang sekitar pukul 21.00 WIB.
"Jangan lupa mengambil tanah di Semarang dan cium tanah itu. Ari-arimu tertanam di sana," pesan mama kepada saya.
Saya terharu membaca pesan itu dan bangga bisa kembali di kota ini setelah 28 tahun lamanya. Saya pun mengambil segengam tanah yang tercampur dengan batu kerikil dan menciumnya.
Sayangnya saya tidak mengunjungi keluarga pak haji untuk mengucapkan rasa terima kasih atas perhatiannya bagi saya. Waktu kami di Semarang hanya sekitar dua jam.
Terima kasih pak haji yang telah mewarnai tanggal 20 Mei 1987 bagi keluarga kami. Di tengah kesulitan ekonomi, saya hadir menjadi sumber kebahagiaan bagi bapa dan mama.


Comments