Posts

Makna 20 Mei Bagi Dua Negara dan Satu Keluarga dari Carl Jung

Image
sumber foto Kompasiana "Kata 'kebahagiaan akan kehilangan makna bila tidak ada 'kesedihan'. Carl Gustav Jung Saya memulai tulisan sederhana ini dengan kutipan dari Carl Gustav Jung, tokoh penting yang merintis teori Psikologi Analitik asal Swiss. Bahwa dalam memaknai suatu peristiwa bahagia bagi sebuah individu maupun institusi pasti diwarnai dengan adanya rasa dukacita. Rasa sedih yang menjadi fase kehidupan tertentu bagi manusia dan sebuah kelompok masyarakat sebelum mencapai kebahagiaan.  Secara khusus saya ingin membahas khusus makna dari kutipan Jung dengan makna tanggal 20 Mei bagi kampung halaman saya, Timor Leste, tanah kelahiran saya, Indonesia dan keluarga saya. Tulisan ini tidak mendalam secara sisi sejarah. Saya hanya ingin menyampaikan makna tanggal 20 Mei menurut persepsi saya yang berkelindan dengan kutipan Carl Jung.  Hal ini sebagai eksistensi dari buah pemikiran Descartes, filsuf asal Perancis,  yakni Cogito Ergo Sum, saya berpi...
Image
AKSARA HATI Setiap aksara yang kutulis terlahir mewakili hati Kesemuanya mengabarkan tentang keprihatinan gelisah ujung belati Dimanakah kita menyembunyikan kebenaran saat mengamati Sedangkan setan setan kepentingan kaum penguasa liar menggrogoti Ada apakah gerangan wahai tanah negeriku Papua Mengapa kemiskinan dan kemelaratan rakyatnya saling bersua Mungkinkah kesakralan tali kasih telah terputus jua Hingga tiada subur lahir kebahagiaan bagi semua Ataukah semua cinta telah hilang berpaling Sampai kapan keprihatinan bertahan dalam keling Rindu dimanakah dikau menyimpan nakalnya kerling Aku karam di lautan kecewa penuh beling Vonny Aronggear, Jayapura, penghujung malam akhir tahun 2019
Image
Apakah Bonum Populi Supreme lex? Apakah Kesejahteraan rakyat adalah hukum utama? Tanpa senyuman di atas  jalan emas, Kaki-kaki dari kampung terkalahkan. Mega infrastruktur untuk kaum atas, Mereka lahir untuk terpinggirkan. Sementara itu, Mereka jaya di tanah raja, Melantunkan lagu kematian empati. Hati-hati mereka punya laskar baja, Tidak ada ruang untuk simpati. FLO,  Jayapura 11 Maret 2020.
Image
Hari ini dan esok yang kan berpulang Takdir telah menanti. Siapapun tak dapat mengelak. Hari ini atau besok kita mati. Tetap ada kisah tersimpan kelak. Dia maha pencipta, Sang pemegang rantai kehidupan, Berpisah dengan kata, Atau hanya dengan tatapan. FLO,  10 Maret 2019. Rest in peace my little dear sister, Graciela Rita Lopes Costa.

Kapitalis dan Status Bodoh

Image
Asap pekat industri di langit.   Penebangan hutan per sekian detik.  Tawa karena wangi aroma kekayaan,  Rasa haus yang tak terpuaskan.  Miliaran dollar digengam,   Namun bumi hanya satu.   Rasa rakus melemahkan konservasi,   Tak ada jalan pintas saat bumi menangis. Saatnya penghakiman tiba.  Akankah, masih ada kesempatan?  Bunda alam tak lagi ramah.  Anak-anaknya tak sekedar benda mati   FLO,  Jayapura,  Juni 2019.

Gizi Buruk Asmat dan Harapan Mahatma Gandhi

Image
Salah satu kutipan terkenal dari Mahatma Gandhi,  tokoh pejuang gerakan anti kekerasan dari India berbunyi "harta sejati adalah kesehatan,  bukan emas dan perak".  Perkataan Gandhi menunjukkan betapa pentingnya memprioritaskan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Tapi sayangnya,  tak semua warga di berbagai belahan dunia yang bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.   Di saat itulah,  peranan media massa  sangat dibutuhkan untuk mengadvokasi masyarakat yang tak bisa mengakses layanan kesehatan yang layak.  Bagi insan pers,  perlu disadari bahwa isu kesehatan adalah salah satu topik yang sangat berpengaruh bagi kehidupan sehari-hari masyarakat khususnya di remote area atau daerah pedalaman.   Masih teringat kembali,  saat pertama kali saya bersama rekan fotografer dari Harian Kompas,  Wisnu Widiantoro dan rekan Kompas TV di Timika bernama Irsul Aditra menginjakkan kaki d...

Ketika Teori Jarum Hipodermik Menentukan Situasi Keamanan Papua

Image
Maraknya pemberitaan media massa tentang aksi penembakan dan konflik antarwarga menimbulkan persepsi bagi masyarakat di luar Papua.  Tertanam di pikiran sebagian besar mereka,  Papua daerah konflik.  Benarkah demikian?  "Fabio,  bagaimana situasi keamanan di sana?.  Saya menonton di salah satu stasiun televisi ada penembakan warga di sana,".   Demikian bunyi pesan dari mama ke telepon seluler saya setelah terjadi insiden penembakan di salah satu daerah pegunungan Papua.  Ada juga pesan dari teman yang akan mengunjungi Papua untuk pertama kalinya.  "Bro bagaimana situasi keamanan di sana ya?.  Besok saya mau ke Papua. Info ya.  Dua pesan ini menunjukkan ada rasa stigma bahwa konflik terjadi secara menyeluruh di Papua.  Padahal insiden penembakan atau konflik biasanya terjadi di daerah tertentu saja seperti Kabupaten Nduga dan Kabupaten Puncak Jaya.  Sementara saya bermukim di Jayapura,  ib...